Cerita Dewasa Istri Bossku Membuahi Anak Anakku

Posted on
Pokervaganza

Cerita Dewasa Istri Bossku Membuahi Anak Anakku – Pada saat aku bekerja di Semarang, umurku 35 tahun dan aku masih belum menikah, namun aku sudah memiliki pacar. Dan kisah ini menceritakan mengenai istri bossku yang merenggut keperjakaanku. Suaminya affair dengan seorang perempuan marketing dari Jakarta. Memang aku kalau melihat istri bossku, aku jadi panggang. Meski sudah punya 3 anak tapi akhir-akhir ini menambah seksi kedua buah yang membesar.

Aku tahu dia ikut fitness rutin dan body building di salah satu sanggar senam. Mungkin untuk menampilkan WIL suaminya yang memang sangat seksi dan suaranya kalau telepon, minta ampun, merdu sekali. bossku sampai klepek-klepek seperti burung tak berdaya.

Agen878

Bossku orang sangat kasar, selalu menang sendiri dan otoriter pada istrinya. Tidak malu dia memarahi istri di depan karyawannya. Tapi anehnya aku cukup percaya. Itu dibuktikan ketika bosku suka cerita tentang keluarganya, juga. Aku yang paling dipercaya boleh masuk di rumah, bahkan di ruang pribadinya. Wah, hebat sekali. Kapan aku punya kamar begini, tempat tidur yang luks dan enak sekali.

Aku bekerja di kantor, di bagian ekspor dan komputer. Soal komputer aku paling pandai. Komputer inilah yang membuatku lebih dekat dan mendekati wanita yang paling cakep dan seksi di kantorku. Terus terang aku sekarang punya urusan dengan manajer keuangan, paling cantik di kantorku. seksi? Bolehlah. Tapi saya sangat ingin menikmati seks dengan Cik Sasa. Wuah, aku suka membayangkan menggumuli tubuhnya yang seksi. Apalagi kalau aku melihat dari belakang. Paling membuatku tidak tahan. Habis, Cik Sasa punya pantat yang aduhai sangat membangkitkanku. Apalagi kalau dia memakai celana panjang. Wuah.. kejantananku ini tegang minta ampun sampai maksimum (15 cm dengan diameter 3,5 cm).Aku suka membayangkan melakukan senggama dengannya dari belakang dengan menungging.

Aku juga ingin menikmati seks dengan adik ipar istri bossku, Cik Nina. Aku terobsesi pada tubuhnya yang sangat seksi. Adik ipar bossku ini lebih seksi segalanya dibandingkan Cik Sasa dan Ima (manajer keuangan). Kalau ke kantor.. wah selalu berpakaian seksi dan ketat. Tubuhnya yang memang berbodi gitar, buah ekstra besar, ukuran 36 kali. Wah aku ngiler kalau dia menemuiku dan bicara soal internet dan komputer. Aroma tubuh dan polah tingkahnya sangat menantangku. Saya juga ingin menikmati tubuh Cik Nia. Cik Nia karyawan di bagian pemasaran. Aku baru sampai pegang-pegangan tangan saja dengan Cik Nia. Rambutnya sebahu, aku paling suka dengan kedua pengganti buah yang besar juga.

Dengan Ima, aku baru sampai pegang paha dan cubit bagian atas buah di depan dan dia diam saja atau membalas manja kalau kami naik mobil. Dengan Cik Sasa, aku baru sampai pada tahap pegang-pegang tangan dan pinggang ketika aku mengoreksi pakaian yang seksi (padahal aku memegang pinggang dan tubuhnya) tiga minggu lalu. Cik Sasa adalah peragawati di kantorku. Tapi bak durian runtuh, saya malah bisa menikmati tubuh istri bossku yang tak pernah kuduga.

Dengan kekasihku sekarang, aku belum pernah melakukan hubungan seks. Paling bercumbu sampai aku telanjang dan dia tinggal CD-nya saja. Kuharap ini kekasihku yang terakhir. Terus terang aku ingin menikahinya. aku tahan seksku sampai pernikahan nanti.

Dua bulan lalu, kira-kira jam 9 malam, aku ditelepon istri bossku untuk menemuinya di hotel Santika. Dari suaranya, pasti ada masalah dengan suaminya. Hampir jam 10 malam aku baru sampai di lobby hotel. Dari lobby, aku kontak Cik Ling dan menyarankan aku lewat lift dari basement dan langsung masuk ke kamar. Aku turun ke bawah (basement) dan dari sana aku dengan lift naik ke lantai 6. Aku memencet bel kamarnya dan dibuka oleh Cik Ling sendiri yang memakai kaos dengan bukaan rendah dan celana pendek.

Wah, aku terkesiap melihat bukaan yang semakin membuat montok sehingga membuatku berpikir bukan-bukan dengannya. Di kantor, kalau aku menghadapnya (Cik Ling juga direktur keuangan) aku seolah membiarkannya melihat bagian depan. Bukannya ditutup dengan blasernya, tapi blaser diregakkan saja dan dibuka lagi seolah-olah membiarkan kedua belah pihak untuk kunikmati. Belahannya putih agak kecoklatan dengan leher panjang. Wah.. aku menelan ludahku sendiri.

Aku dipersilahkannya masuk dan duduk.
“Dimana koh Edward(suaminya), Cik..” kataku.
“Ooo suamiku ke Jakarta,” katanya.
“Ada apa sih Cik kok malam-malam begini?” Tanyaku.

Cik Ling mengambil dua minuman coke dan mematikan TV kemudian duduk di kursi (dia menariknya ke arah tempat tidur) agak mengahadapku. Cik Ling menerahkan Coke padaku dan aku hampir setengahnya. Cik Ling mulai gelisah dan aku bertanya lagi, “Ada apa Cik?”. Dengan menahan tangis Cik Ling menceritakan WIL suaminya yang di Jakarta. Cik Ling memang sudah tahu lingkungan suaminya.

Sabun-Licin

Tadi sebelum ke Jakarta, Cik Ling pesan agar Ko Edward hati-hati. “Kurang apa sih aku ini,” katanya. “Aku istri baik, memberikan tiga anak.” Cik Ling menikah sangat muda dengan tiga anak. Anak yang bungsu sudah kelas 1 SD. “Aku juga ikut senam dan membuat tubuhku tambah seksi,” katanya melanjutkan sambil menangis. “Sejak suamiku punya WIL, aku dibiarkannya merana dua tahun terakhir ini,” sambil menangis.

Aku mendengar itu semua, tidak tahu apa yang harus kukerjakan. Apalagi ketika dia tambah menangis keras. Kedua melihat wajahnya yang tertunduk. Wah, untungnya ruangannya kedap dan terkunci. lalu kutarik kursiku dan lebih dekat dengannya, di tempatkan.

“Cik,” kataku memecah kesunyian. “Cik Ling sabar ya? Pasti ini akibat Puber ke doa,” kataku. Aku memberanikan memegang pundaknya dan kepalanya. Cik Ling terdiam mendengar perkataanku seolah membenarkan. Ko Edward usianya 45 tahun, Cik Ling 37 tahun usianya. Jadi kupikir puber kedua setelah membaca buku psikologi yang pernah kupelajari.

Cik Ling melihatku lagi dan kemudian menangis dan ampun, dia merebahkan kepalanya di pahaku. Aduh, mati aku. Aku tidak bisa menahan sesuatu yang bergerak mengeras di balik celanaku. Kuelus lagi kepalanya dan beberapa nasihat meluncur dari mulutku sementara pikiranku macam-macam. Apalagi aku bisa melihat rendahnya pungungnya (karena pakai).

“Kok nggak pakai BH,” batinku. Kuraba kepala dan pundaknya, tangisnya mereda walau belum benar-benar selesai. Karena aku tidak tahan dengan birahi di dadaku, aku hanya bisa melihat ke arah punggungnya yang terbuka bagian atas. Aku saat itu sudah sangat sengaja melakukannya dengan takut-takut. Ya Tuhan, Cik Ling diam saja ketika aku melakukannya. Kuelus leher belakang, kepala belakang dan kuberanikan mengangkat dengan memegang kedua pipi dan telinganya dari samping. “Cik Ling”, kataku sambil mata kami berpandangan.

Kuambil sapu tangan dan kuusap air mata di wajahnya. “Bibirnya bagus sekali,” pikirku. Ini kali pertama aku melihatnya sedekat ini, apalagi dia adalah direktur keuanganku. Kami berpandangan dan ya ampun, dia memejamkan mata dan membuka sedikit mulutnya. Aku ingat kekasihku kalau kami mau bercumbu, dia pejamkan matanya dan buka sedikit.

Kasihan Cik Ling, aku pikir pastilah suaminya sudah lama sekali tidak menjamahnya, menyetubuhinya. Karena kesempatan itu datang, kuraih saja bibir Cik Ling. Kukecup beberapa kali sebelum akhirnya aku menceritakan kisah dan Cik Ling membalasnya. Ya Allah, aku dapat durian runtuh malam ini. Pikiranku dipenuhi dengan birahi dan ingin menikmati tubuh Cik Ling di Hotel Santika malam ini. Ahh, sangat senang, kami menikmatinya dan lidahnya, lidahku menari-nari.

Kutelusuri lehernya yang panjang dengan mulutku sementara tangan memegangi tangannya, meremasnya. Ahh, Cik Ling kegirangan menyambut cumbuanku. Dia pasrah. Apalagi ketika kami mulai merambatkan pinggang dan menggapai kedua bukitnya, kuelus dari luar kaosnya yang tanpa BH itu. Aku menikmati sambil melihat mulutku menelusuri lehernya dan turun lagi memutari dada ke atas. Cik Ling mendesah-desa dan mendesis kegirangan. Lalu kami berdekapan, kutuntun Cik Ling ke arah tombol musik yang tersedia dan kuraih chanel yang tersdia di hotel. Kami berdekapan lama sambil berdiri mengikuti irama alat musik.

“Aku milikmu Jo, malam ini.” kata Cik Ling memecah kesunyian. Aku dipanggilnya dengan Jo, seperti yang biasa dia lakukan di kantor. Dia berkata begitu sambil melepas celanaku, bajuku dan semua yang menempel padaku. Aku telanjang di sana. Didekapnya aku, diraba dan elusnya batang kejantananku yang sudah mengejang keras. Jantungku serasa lepas. Lalu kami bercumbuan lagi. Akuskup dan Kucumbui Cik Ling dari Belakang.

Mulutku lehernya, punggungnya, pipinya, telinganya dan dilingkarkannya tangan Cik Ling di atas, kulumat. Tanganku meremas kedua bukitnya dengan lembut dan membuat itu mengeras. Cik Ling menggeliatkan tubuhnya, melengkung ke depan. Ah, pemandangan yang indah. Kulepas kaos merahnya dan besarnya indahnya penampilan buah dada Cik Ling, masih kencang dan cukup besar, puntingnya berwarna coklat sangat menarik dan membuat lebih terangsang untuk memetik buah kedua yang mendukung panen dan kunikmati dengan mulutku.

Kubiarkan Cik Ling menikmati sensasi-sensasi yang kustimulasikan pada tubuhnya. Cik Ling membiarkan aku meremasi lembut kedua buah pengganti. Kulihat Cik Ling memejam dan menggeliat-geliat melengkung ke depan. Aku ingin menelanjanginya. Kuraih celana pendeknya dan kulorotkan ke bawah, Cik Ling melepas sendiri. Aku sekarang melihat gundukan pink di balik celana dalamnya. Kuraba gundukan itu dan Cik Ling semakin menikmati desah dan geliatnya. Kustimulasi dengan kedua tangan sewaktu-waktu dan akhirnya kumasukkan ke celana dalamnya, kulepaskan dan sekarang aku benar-benar melihat Cik Ling di dekapanku.

“Basah Cik,” kataku.
“Iya, aku sudah nggak tahan Jo. Saya sangat menikmati cumbuanmu sekarang, dan saya ingin terpuaskan Jo. Ayo lakukan..” Pinta Cik Ling dengan manja padaku.
“Tapi Cik.. aku..” aku ingin katakan bahwa aku belum pernah melakukannya pada wanita.

Gelora birahi di dadaku memuncak dan batang kejantananku sudah tidak terputuskan lagi. Cik Ling kupeluk erat dan biarkan bersandar di dada kiriku. Ahh, manja sekali Cik Ling ini, pikirku. Kukecup pipinya, dahinya. Kukecup telinganya dan Cik Ling sangat menikmati sensasi gelora seks yang kulakukan untukmu. Kubalikkan tubuhnya lagi dan Cik Ling berhadapan denganku. Aku mencumbuinya lagi. Dibiarkannya mulutku menelurusi leher dan memasaknya. Aku hampir tidak tahan menahan geliat tubuhnya.

Apalagi ketika saya sampai di tempat. Ahh, saya sangat menikmati kedua buah di belakang. Kuputar lembut dan Cik Ling membuat saya semakin leluasa. Lenguhan, desahan dan geliatnya bikin birahiku meledak-ledak. Kupaguti bergantian kedua buah menggantikan. Kukulum kedua puntingnya secara bergantian dan membuat tubuh Cik Ling semakin menggeliat dan akhirnya aku tidak kuat lagi menahan tubuhnya, kubiarkan terjatuh di tempat tidur.

Kubiarkan Cik Ling semakin ke tengah tempat tidur, aku memandangi tubuhnya yang indah. Cik Ling membuat gerakan-gerakan yang menandakan letupan birahinya sehingga membuatku sangat terangsang. Apalagi ketika dibukanya kedua kakinya dengan diangkatnya pahanya. Betapa menggairahkan. Kulihat gundukan hitam di puncak selangkangannya. Malam ini, pastilah akan menjadi malam pertamaku menyetubuhi wanita dan Cik Ling lah yang akan membuatku tidak perjaka lagi. Ini tekadku malam ini. Aku ingin memberinya kesan dan sensasi yang mendalam tentang diriku.

Kudekati tubuh Cik Ling dari samping. Tangannya menarikku. Kucumbui Cik Ling lagi. Aku mencumbuinya dari atas ke bawah dengan merambatkan ke atas. Kunikmati kedua bukitnya dengan leluasa dan menggapai kedua kalinya untuk melacak perjalanan liang senggamanya, Cik Ling menggeliat mendesah lagi. Kutelusuri perutnya akhirnya aku sampai di liang senggamanya. “Oh, wangi sekali,” pikirku.

Tapi belum sempat aku bertindak lebih lanjut, diraihnya batang kejantananku dan dikulumnya. Aku mendesis kenikmatannya. Disedotnya batang kejantananku hingga masuk penuh di mulutnya. Ohh, ini pertama kali mulut wanita mengulum batang kejantananku. Betapa nikmatnya sampai aku hanya bisa berkata “Ooohh Cik.. ahh..” dan pinggulku tergoyang-goyang mengikuti sensasi yang Cik Ling berikan melalui batang kejantananku.

“Oooh Cik, aku nggak kuat, mau keluar Cik,” kataku.
Tapi tak ada sahutan. Yang ada hanya hisapan dan kuluman yang membuat batang kejantananku mengeras. Aku mencoba menahan diri dengan menikmati liang senggamanya dengan mulutku. Akhirnya aku tidak tahan dan kumuntahkan sperma hangatku penuh di dalam mulut Cik Ling. Aku terdiam..ini namanya orgasme? Kulihat Cik Ling sangat menikmati dengan apa yang baru saja terjadi.

“Terima kasih ya Cik,” kataku. Dia hanya tersenyum tipis dan memelukku. Kucumbui lagi Cik Ling dan aku sangat suka menikmati kedua buah terdekat dengan menempatkannya yang ranum. Hal ini membuat Cik Ling bergelinjang kenikmatannya. Kalau mulutku memaguti dan menggulumi yang kiri, tangan kananku meremas lembut yang kanan, begitu sebaliknya. Aku seperti bayi yang menikmati ASI dari samping.

Kulihat gerakan gerakan yang ditimbulkanku. Lalu sambil mulutku mengulum buah di samping, kujulurkan tanganku menggapai liang senggamanya. Cik Ling semakin menikmati permainanku ini. Kuelus liang senggama dan sekitarnya, membuat gerakan kaki terbuka lebar, semakin menantiku menyetubuhinya. Kurasakan liang senggamanya yang semakin membasah dan akhirnya ketika kedua kakinya mengangkang, aku bergerak dan berada di antara kedua kakinya. Kupandangi liang senggamanya dan kunaikkan kaki kirinya, aku diciumi pahanya dengan lembut menukik ke bawah dan akhirnya aku mencumbui liang senggamanya.

Baca Juga : Cerita Sex Tubuh Tanteku Meronta Saat Di Perkosa

Kepalaku diremas-remas dan ditekannya, kudengar geliat dan desahnya makin menjadi-jadi. Kedua kaki terbuka lebar di depanku. Saya sangat menikmati liang senggamanya. Ini kali pertama aku mencumbui liang senggama wanita. Aku merasakan cairan dan membuatku terangsang dan Cik Ling agar aku segera menyelesaikannya.

Ditaruhnya kedua sudah di pundakku dan batang kejantananku yang kembali menegang kutuntun memasuki liang senggamanya. Kumasukkan sedikit demi sedikit dan kuputarkan di seputar liang senggama Cik Ling yang menciptakan melenguh kenikmatan sejadi-jadinya. Aku masukkan lagi dan lebih dalam lagi dan tertanam penuh di liang senggama Cik Ling. Kupegangi kedua bertanggung jawab, sementara aku menikmati sensasi di sekeliling batang kejantananku, lalu kugoyangkan lembut mulutku menikmati kedua puting susunya secara bergantian.

Aku terus menggoyang lembut di seputar dinding dindingnya. Aku merasakan Cik Ling mau orgasme. Kupercepat goyanganku dan kudengar suara teriakan terputus, tubuh Cik Ling mengejang dan menjepit batang kejantananku kuat-kuat. dasar itu aku merasakan spermaku mau keluar lagi. Akhirnya aku menikmati saat akhir yang sangat menggairahkan. Cik Ling mencapai orgasme, juga aku. Saya merasakan sangat menikmati. Aku tidak perjaka lagi.

“Terima kasih ya Cik,” kataku. Kukatakan itu ketika aku mengecup telinganya, melihat dahinya dan melihat lehernya juga akibat dari meninggalkan warna. Tangannya masih agak menggelepar di kanan kiri seperti dibukanya.
“Cik, ini kali pertama aku menyetubuhi wanita,” kataku melanjutkan. Cik Ling tersentak dan aku menginginkannya.
“Cik Ling lah yang merenggut keperjakaanku malam ini,” kataku sambil mengecup dahi dan pipinya.
Aku dipeluknya erat lagi dan aku membalasnya.

Malam itu aku tidur di hotel sampai pagi dengan kehangatan tubuh Cik Ling di pelukanku. Rasanya tubuh Cik Ling menjadi selimut hangat buatku. Pagi-pagi aku pulang ke rumah dan masuk kerja seperti biasanya meski aku merasa ngantuk. Tapi aku minum obat booster agar tidak ngantuk dan terbukti cukup kuat menahan rasa kantukku. Apalagi dengan kedatangan Cik Ling. Senyumnya sungguh beda. aku suka. Dan lagi-lagi saya sangat tertarik dengan kedua buah di belakang yang pagi itu nampak lebih mempesona buatku. Cik Ling sepertinya bangga. Aku diteleponnya dari ruangannya dan berkata terima kasih dan senang karena dapat membuatku tidak perjaka lagi.

“Gila!” Pikirku. Pengalaman dengan Cik Ling membuatku semakin terobsesi menikmati tubuh gadis dan istri di kantorku. Saya ingin menikmati tubuh Cik Sasa. Aku ingin menyetubuhi Ima, Nia dan Cik Nina adik ipar Cik Ling.

Gila! Ketika aku menulis tulisan ini, aku sudah semakin jauh dengan Nia. Dia istri Mas Budi. Aku ingin menikmatinya. Dan sudah kurencanakan di hotel dekat rumahnya. Aku sudah belikan dia daster hitam untuk dipakai nanti dan dia menerimanya dengan suka hati. Ada hotel berbintang disana.

Sementara dengan Cik Ling, aku masih terus berhubungan. Yang paling gila adalah aku menyetubuhinya di rumahnya sendiri, di sofa di ruang multimedia. Dia memanggilku ke sana saat suaminya ke luar negeri dua minggu lalu. Karena memang aku pandai komputer dan multimedia. Jadi Cik Ling memakai alasan itu.

Aku menyetubuhinya berkali-kali dan Cik Ling mengajarku berbagai posisi. Aku suka posisi doggy style, padahal kurencanakan mau kuterapkan nanti untuk Cik Sasa.. entah kapan, tapi sudah.