Cerita Sex Tubuh Mona Yang Di Jadikan Bahan Seks

Posted on
Pokervaganza

Cerita Seks Tubuh Mona Yang Di Jadikan Bahan Seks – Tono yang seperti diketahui adalah seorang pecinta seks, dan kini sudah meninggalkan kita semua. Aku akan menceritakan kepada Anda mengenai sepak terjang Tono di dunia percintaannya. Sore itu hujan sangat deras, aku berteduh di sebuah halte sambil menunggu bis, aku bersama seorang siswi SMA, aku juga sedang menunggu bus sepertiku. Hujan sangat deras, siswi di sebelahku sudah sangat gelisah karena belum ada satu pun bus yang lewat.

Berselang beberapa menit siswi itu pun gelisah, sepertinya ia tidak mau pulang ke rumahnya. “Tidak ada bus nih”, kataku kepadanya. “Iya nih bang, uda mau malam lagi…”, ia gelisah sambil merengkul dirinya sendiri karena kedinginan. “Jauh rumahnya?”, tanya. “Enggak sih, cuma laki-laki aja lewat sana jalan kaki…”, jawab siswi yang berseragam putih abu-abu itu. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing, tinggi badan, sama dengab tipe dan seleraku.

Agen878

“Emangnya kenapa lewat sana?”, tanyanya. “Gak sih… Gak apa apa”, jawab siswi itu sambil memandang ke jalan berharap ada bus yang lewat. “Tono”, saya mencoba memperkenalkan diri untuk mencari tahu siapa nama cantik ini. “Mona bang”, jawab siswi sambil menerima jabat tangan kami. “Sekolahnya di mana? Kok bisa ke sorean begini?”, tanya saya. “Oh, tadi ke rumah teman bang, ngerjain tugas kelompok”, perpustakaan. Kami pun mulai berbicara-bincang, hingga hujan mulai berhenti tanpa satu pun bus yang lewat. “Sudah mulai reda nih mon, abang mau jalan kaki pulang saja”, kataku untuk meninggalkan halte karena sudah lepas magrib kami menunggu. “Masih rintik-rintik bang, entar basah”, kata Mona.
“Gak apa-apa, sudah biasa”, jawabku dengan senyum sambil meninggalkan halte.

“Tunggu bang!”, teriak Mona ketika melihatku berlari-lari berhenti. Aku pun terdiam di bawah rintik-rintik hujan, Mona kemudian berlari ke arah ku sambil memayungi dirinya dengan tugas sekolahnya. “Mona satu arah, Mona ikut abang ya…”, katanya. “Oh, ayo abang temani pulang”, aku menawarkan.

Kami pun berjalan bersama di bawah hujan, langit gelap, tubuh Mona basah air hujan, seragam sekolahnya yang terlihat tembus hingga nampak buah terdekat yang terselimut bra putih. Tubuhnya pun mengeluarkan aroma yang harum, yang lurus nan hitam pun lepek basah. “Rumah Mona lewat sini bang”, katanya menunjukkan sebuah gang yang sekaligus. Pantesan dia tidak berani pulang, rumahnya harus melewati gang seperti ini jika harus menyurusi jarak yang lebih dekat. “Temani Mona ya bang”, dia memelas. Aku tahu dengan kondisi gang ini, selain tampak menakutkan, di sini sering terjadi pembunuhan.Hanha beberapa gubuk reot di dalam gang, selebihnya tumpukan sampah yang bau, di sini para preman sering berkumpul hanya untuk berpesta miras, tak jauh dari mereka sering berjudi dan berkelahi di sini.

Aku pun memberanikan diri untuk mengantar Mona hingga ke rumahnya, “Ayo abang kawankan”. “Mona pernah dikejar orang gila di sini”, katanya sambil ketakutan melihat kiri kanan. Aku pun melirik sana sini, cukup aman, tidak ada satu pun yang menarik, sepi, hanya dua pemulung yang sedang mengais sampah di bawah hujan rintik-rintik ini. “Mona kelas berapa?”, bertanya tentang bahan pembicaraan agar Mona tidak sibuk menelusuri gang ini. “Tahun ini ujian nasional bang”, jawab Mona yang masih melewati gang. “Bentar lagi dah sampai jalan besar kok mon…”, kataku sambil ke ujung gang yang sedikit terang menandakan jalan besar ada di ujung sana. “Mona pernah dikejar orang gila bugil bang, Mona takut kalau dia muncul lagi di sini”, kata Mona.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Hei kalian! Sini!”, kami segera memandang ke arah gubuk kosong reot, ada cahaya kecil di dalam nya. Beberapa orang sedang bermain sambil bermain sambil diterangi cahaya lilin yang redup. “Kita lari saja bang”, bisik Mona ketakutan. Belum sempat lari, tiba-tiba di depan ada seorang pria besar tinggi menghadang kami, penuh penuh otot dan bertato, mukanya brewokan, kulitnya hitam, tiba-tiba dia orang timur. Dengan satu tangan menggenggam botol bir, dan satu lagi memegang pisau yang dia arahkan kepada kami, ia pun berkata, “Berikan uang kalian!”, matanya melotot tajam ke arah kami.

Sabun-Licin

‘Shrek shrek’, terdengar suara seperti benda di tanah, ke belakang ternyata dua pemulung itu menarik karung sampahnya yang penuh menuju arah kami, mereka pun mengarahkan besi kais ke arah kami, “Kami juga butuh uang”, kata membuat Mona ketakutan lalu memelukku. Aku pun mengeluarkan dompetku karena tidak mau membahayakanku dan siswi yang baru aku kenal ini. Namun belum sempat mengeluarkan uang dari dompetku, tiba-tiba pria hitam yang tadinya di depan kami langsung menyambar dompetku, cepat sekali gerakannya. “KYA!!!”, teriak Mona kaget karena tas ransel yang dibawanya juga ditarik paksa hingga lepas oleh dua pemulung yang tadinya di belakang kami.

Pria hitam di depan kami tidak mengubah posisi, ia menahan kami untuk melewatinya, ia sibuk menghitung jumlah uang yang ada di dompetku yang tadi telah ia rampas. Sedangkan doa pemulung di belakang sedanh sibuk berebutan membuka tas Mona. Mereka menemukan bungkus roti dan buku-buku serta perlengkapan sekolah lainnya, satu pemulung langsung menyantap roti itu, dan satunya lagi sibuk mengeledah bersih tas milik Mona.

“Cuma segini?!”, teriak pria hitam yang di depan kami, ia marah, lalu menarik bajuku, matanya melotot tajam melihatku, lalu aku di dorong hingga jatuh. “KYAAA!!!”, Mona berteriak lagi, sangat kencang, ia dipaksa masuk oleh beberapa orang yang tadinya bermain judi di dalam gubuk. “TOLOOOONGGGG”, teriak Mona ketakutan dan berusaha keluar dari gubuk itu, namun beberapa pasang tangan menariknya paksa hingga masuk ke dalam gubuk. Aku berdiri untuk membantu Mona, namun pria hitam yang tadinya mengambil dompetku langsung menendangku, “Dasar kere!”, kata pria itu yang terus menghujaniku dengan tendangannya, “Mana cukup gue beli minun lagi”, katanya marah sambil meludahiku.

Pria itu kemudian masuk ke gubuk, perutku sakit, aku tidak bisa bergerak, hanya tersungkur dan ditemani hujan rintik-rintik di langit yang gelap. Dua orang pemulung itu masih menikmati rotinya, mereka saling berbagi untuk mengisi perut mereka, sedangkan tas Mona sudah kosong, semua bukunya sudah basah berbaring di luar tasnya.

Aku menangisan dari dalam gubuk itu, sepertinya Mona sedang disakiti oleh mereka. Aku mencoba ke arah pintu untuk melihat apa yang terjadi, perutku masih sakit, aku hanya bisa menggunakan tanganku untuk membantuku mencapai pintu gubuk. Astaga, aku ketakutan melihat apa yang terjadi, di dalam gubuk itu ternyata sangat ramai, beberapa orang sedang bermain sambil bermain sambil berpesta miras dengan dicahayai lampu lilin, lantai mereka basah karena air menetes dari sela-sela atap yang bocor. Di sudut gubuk terlihat juga beberapa orang sedang mengerumuni Mona yang tidak bisa melawan.

“Maaf Mona, aku bisa tersungkur tanpa bisa membantumu”, gumamku dalam hati sambil meremas penisku yang mengeras di dalam celanaku yang basah karena becek jalanan gang. Kejadian di depan mata itu membuat gairahku melonjak. Aku para pria mabuk itu sedang menelanjangi Mona, seragam SMA Mona dilucuti dan dilempar dari arah jendela kecil, melihat seragamnya basah dan kotor karena air. “Memohon untuk aku”, mohon Mona, namun rengekannya sama sekali tidak digubris oleh para pria itu. Beberapa orang yang memegang Mona agar tidak melawan, sedangkan pria yang tadi merampas dompetku sudah melepaskan pakaiannya hingga ia akan segera memperkosa Mona.

Penis pria besar itu mengacung ke atas, sudah keras dan sangat besar sekali, ia mengarahkannya ke wajah Mona. Pria-pria yang memegangi Mona menarik tubuh Mona ayak di depan pria hitam besar yang sudah bulat itu. Mona berusaha melawan, namun pria-pria itu mencengkramnya dengan kuat, tangan-tangan mereka nakal, bergerilya ke mana saja, meremas payudara Mona, mengelus pahanya, bahkan menjamah vagina Mona yang terlihat masih belum lebat dengan bulu jembutnya. “Ayo kulum penis ku!”, perintah pria besar itu dengan menjambak rambut Mona dengan kuat dan ditarik ke wajahnya hingga ke wajah penis besar tersebut. Mona menolaknya, ia berusaha menghadapi wajah dari penis yang jijik itu. “Perek sialan!”, marah pria itu lalu menjambak lebih kuat rambut Mona hingga Mona terperanah ke atas karena tertahan.

Mona menangis, sepertinya tidak pernah melihat penis, ia melihat benda itu terus-menerus melihat wajahnya, aku dia merasa jijik, pria itu sembrautan, mungkin penisnya tidak terawat sehingga bau pesing. ‘PLAK’, terdengar suara tamparan keras, Mona menangis kencang ketika pria itu membebaninya dengan kuat, pipinya memerah, air mata terus berlinang, “Mau bunuh kali ya?”, ancam pria itu. “Hiks…”, Mona terus menangis tanpa mau memandang penis milik pria itu. “Sebaiknya kau turuti saja, dia bisa saja mematahkan kakimu kalau kamu menolak”, saran pria lain yang sedang mencengkramnya, lalu langannya menekan rahang agar ia membuka mulut. Dengan sangat terpaksa Mona pun membuka mulut mungil indahnya untuk memasukkan penis besar pria itu.

“Hei lihat temannya sedang nafsu”, teriak pria yang sedang berjudi sambil menunjuk ke arahku yang sedang mengeluarkan penisku dari resleting celanaku. “Hahahahaha”, semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku, aku menundukkan kepala karena malu, namun pemandangan di depan mataku sangat lah memicu gairahku. “Biarkan saja dia melihat aksi kita”, kata pria besar yang penisnya sedang di sepong oleh Mona. “Payah”, ejek seorang pria yang sedang berjudi, mereka melanjutkan kesibukan mereka berjudi, dan kelompok lain sedang asyik menikmati Mona. Dengan tubuh mungil itu Mona hanya bisa menuruti kemauan mereka, tubuhnya terus dijamah pria-pria yang memeganginya, bahkan ada yang bergantian menyedoti susu Mona yang kecil dan berputing merah muda.

“Perek ini amatiran, sepongannya jerih payah!”, kata pria besar itu belum puas walau sudah beberapa menit disepong oleh Mona. Pria itu lalu mendorong Mona hingga jatuh, tubuhnya diterbalikkan lalu ditariknya bokong Mona hingga menghadap ke atas. “JANGAN!!!”, teriak Mona ketakutan karena sebentar lagi akan diperkosa pria tadi. “Seponganmu jerih payah, tak bisa membuatku puas”, kata pria itu yang langsung menancapkan penis besarnya dari arah belakang. “ARGHHHHH!!”, teriak Mona karena penis besar itu masuk ke vagina sempitnya dengan kasar. “Sakit….”, rintih Mona sambil mengedit sendiri. “Masih perawan ya?”, tanya pria itu dengan senyum nyengirnya, lalu dengan pelan-pelan menggoyangkan bokongnya hingga penisnya keluar masuk di vagina Mona.
Saya pun terus mengocok penisku melihat Mona diperkosa dengan gaya doggie membuat saya bersemangat, ingin sekali berkumpul di sana untuk menikmati tubuh Mona yang indah itu, mungil, putih, dan segar. Maaf Mona, aku terlalu suka dengan adegan ini, semoga ada pria di sana yang memintaku untuk bergabung di sana. Namun saya tidak bisa berharap banyak, pria-pria itu sedang kesetanan, mereka pasti tidak mau membagi hasil buruan mereka. Pria-pria lain yang memegangi tubuh Mona kini sudah melepaskannya, mereka yakin Mona tidak akan melawan lagi, pria-pria itu pun menelan tubuh mereka masing-masing, mereka sudah tidak sabar mengantri menikmati tubuh Mona. Tubuh mereka penuh tatto, malah ada bekas lukanya.

Rambut Mona dijambak, pria satunya menghadap ke depan wajah Mona, meminta Mona menyepong penisnya, Mona sudah tidak mungkin melawan, ia sudah pasti akan menolak jika menolaknya, sehingga dengan sangat terpaksa harus menurutinya, walaupun vaginanya terasa sakit karena sodokan pria besar hitam di belakangnya , Mona berusaha menahannya agar ia tidak menggigit penis pria lain yang ia takuti, ia takut akan dibunuh, ia hanya menangis meratapi nasibnya tanpa perlawanan, pria lain hanya meremas-remas susu Mona sambil memainkan penis mereka menunggu giliran.

Sial, saya memang sedikit mengalami disfungsi seks, saya segera menahan tangan untuk mengocok penisku agar tidak segera berejakulasi, biasanya saya menggunakan obat kuat untuk melakukan hubungan seks. Kulihat tangisan Mona semakin membuat penisku mengeras, suara-suara rintihannya karena itu juga memicu adrenalinku untuk bisa mengalirkan spermaku di dalam liang vagina Mona.

Sudah cukup lama pria itu menggenjot Mona dari arah belakang, Mona pun sudah kecapekan dengan gaya itu, kepalanya sudah tersungkur hingga ke lantai, pria lain coba mengangkat agar Mona bisa kembali menyepongkan mereka, namun Mona tidak mampu, tubuhnya terlihat lemas. “Hahaha, seperti”, kata pria besar itu gerakannya, “Sempit dan nyaman, gigit”, kata pria itu sepertinya akan segera berejakulasi, rencana berencana menyemprotkan spermanya di dalam vagina Mona. “Ah….”, pria besar itu bernafas lega, ia sudah berejakulasi, Mona pun tidak bisa menolaknya, ia sudah setengah sadar.

Pria besar itu menarik lepas penisnya, “Wah, benar masih perawan ya”, kata pria itu menjamah vagina Mona yang tertinggal bercak darah. Pria itu kemudian berdiri dan mengenakan pakaiannya. Pria yang lain langsung dengan cepat memanfaatkan posisi, Mona dalam antrian seks mereka, sangat malang.

“Awas!”, teriak pria besar itu menuju ke arahku, “Argh!!!”, teriakku ketika pria itu menendangku tepat di penis ku yang sedang mengeras. “Menghalangi jalan saja!”, marahnya kemudian melangkahiku untuk melewati pintu dan meninggalkan gubuk ini. Ku lihat bayangannya menghilang di dalam gelap, hanya sampah-sampah yang berserakan dan dua pemulung yang tadi kembali memulung lagi.

Aku melihat kembali adegan secara langsung menunjukkan gangbang di depan mataku, meskipun sedikit gelap, aku memperhatikannya dengan cermat, penisku masih sakit gara-gara tendangan tadi sehingga aku tidak bisa memainkannya terlebih dahulu. Mona sudah tidak sadarkan diri, ia sudah dibalik sehingga terlentang, pria selanjutnya selanjutnya kemudian tubuhnya, sambil menciumi dia, pria itu mengarahkan penisnya ke lubang vagina Mona.

Udara mulai dingin, sudah cukup malam, apakah keluarga Mona tidak khawatir dengan keadaan Mona yang belum pulang selarut ini? Kulihat keluar lagi, ke ujung gang, gelap gelap, tidak ada tanda-tanda ada yang lewat, maklum selain itu, gang ini juga rawan kejahatan dan sering terdengar cerita keangkerannya. Hanya beberapa ekor tikur berlarian kian kemari, sedangkan dua pemulung masih mengais-ngais sampah yang menumpuk.

Pria tadi yang menggenjot keras tubuh Mona kini sudah berejakulasi dan segera ditunjukkan oleh teman-teman lain yang sedari tadi menunggu giliran giliran. Masih ada dua pria yang belum mendapat giliran, mereka hanya meraba buah dada Mona dan mengenyotnya. Sedangkan lima pria yang sedang berjudi masih sibuk dengan kegiatan mereka, entah mereka akan ikut memperkosa Mona atau tidak, namun memang mereka memandang ke arah Mona sambil menelan ludah.

Penisku kembali ku kocok, masih sedikit gara-gara tendangan tadi, namun nafsu ku begitu kuat, penisku terus-terusan mengeraskan. Pria yang mendapat giliran selanjutnya langsung mengangkat kaki Mona dan dibuka lebar hingga vaginanya mudah untuk dimasuki penisnya. Mona masih terkapar tak sadarkan diri, tubuh mungilnya tidak lagi bergerak sedikit pun. Dengan mudah pria itu menusukkan penisnya ke lubang vagina Mona, dan lalu mulai menggoyang tubuh Mona. “Ah…”, teriak pria itu merasakan nikmat ketika memperkosa Mona.
“Hahaha, uangku habis bro…”, ketawa salah satu pria yang sedang bermain judi, ia kalah berjudi, ia terpaksa bangkit dan meninggalkan tempat duduknya. Bukannya pergi dari gubuk, namun pria itu membuka pakaiannya hingga lalu ikut mengantri untuk memperkosa Mona. “Payah lu!”, teriak teman lainnya yang melanjutkan berjudi.

Mona terus diperkosa dengan berbagai gaya, Kemana-bentar Mona tersadar namun karena kejinya para preman ini memaksa Mona membuat kembali pingsan. Setelah meluapkan hasratnya, pria itu berhenti dan memberikan giliran untuk teman-teman lain.

“Arg! Setan!!!”, teriak satu pria membuatku kaget, ia melihat kesal dan membuang kartunya, sepertinya dia kalah berjudi. “Bawa sial nih perek!”, teriak pria itu lalu juga menuju arah Mona untuk mengambil giliran.

Baca juga :  Cerita Dewasa Sepupu Manis Di Renggut Keperawanannya

“Tak seru nih main cuma bertiga”, kata pemain judi, “Tuh gara-gara si perek malah jadi tak konsen”, balas pria lain. Lalu mereka sama-sama melempar kartu mereka dan kemudian ikut ke gerombolan pria yang memperkosa Mona. Kasihan sekali, Mona akan segera diperkosa beramai-ramai, banyak pria yang mengerumuninya, para pria itu tidak berpakaian, mereka sudah kesetanan.

Karena tidak mampu menunggu lebih lama, para pria itu pun memanfaatkan semua lubang yang ada, ada yang memperkosa mulut Mona, ada yang tertindih di bawah sambil menusukkan penisnya ke vagina Mona, dan dari belakang ada pria yang menusukkan penisnya ke lubang anus Mona.

Mona tiba-tiba tersadar, ia menangis, menangis lalu pingsan lagi, tubuhnya terlalu lemah untuk melayani pria sebanyak itu. “Masih muda ya nih perek”, kata pria yang menyodokkan penisnya ke mulut Mona, “Wajahnya cantik mirip artis”, sambungnya. “Anak SMA nih, masih rapet banget”, kata pria yang tertindih tubuh Mona di bawah, ia sedang asyik menusukkan penisnya ke lubang vagina Mona.

Puluhan menitikan mereka menggenjot Mona, bergantian hingga semua mendapatkan giliran. Aku sudah bosan menunggu, aku memasukkan kembali penisku, dan coba bangkit, aku mau meninggalkan tempat ini, Maafkan Mon. Namun belum berjalan jauh tiba-tiba aku mendengar suara berisi di gubuk itu, aku melihat ke arah sana, ternyata semua sudah berpakaian kembali, sepertinya mereka sudah puas memperkosa Mona, sambil menarik Mona dengan menjambak mereka melemparnya ke luar gubuk. Mona tersungkur ditumpukan sampah yang kotor dan bau dengan tubuh tanpa busana. Aku berusaha lari ke sana, tunggu aku Mona, aku ingin juga menikmatimu, setelah itu baru membantumu.

Tubuh Mona terpampang di depan mataku, susunya kecil ranum, masih merah muda, kulitnya, namun sekujur putih tubuhnya penuh lebam, ada bekas sperma, bau minuman keras, sudah berubah acak-acakan, dan kini berbau aroma sampah. Aku segera menanggalkan pakaianku. Ku buka hingga bugil semua, dengan cepat agar aku tidak ketahuan oleh orang lain jika berlalu lalang.